Ngeri memang, kalau mendengar kata UNAS. UNAS yang dulunya hanya 3 mata pelajaran utama, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, tahun ini menjadi 6 mata pelajaran. Informasi yang masih menjadi wacana pemerintah itu menggemparkan kalangan siswa. Tak hanya siswa, orang tua yang ikut pontang-panting membiayai sekarang ikut geger, takut anaknya tidak lulus. Apalagi standart kelulusan kini menjadi 5,5. Hmmm… Bayangkan, dua tahun lalu saat standart kelulusan masih 4,5 saja banyak yang tidak lulus, apalagi UNAS kali ini? Bisa diperkirakan prosentase kelulusan hanya 20%-30%.
Sebenarnya yang dipermasalahkan bukan hanya perbedaan jumlah mata pelajarannya, tapi juga mata pelajaran yang diujikan. Fisika misalnya, mapel yang menjadi momok jurusan Ilmu Alam ini sekarang justru masuk daftar UNAS, ditambah lagi standart kelulusannya yang juga ikut naik, ckckck… Bisa gak ya?
Mengetahui kebijakan tersebut, sebagian ada yang pasrah menerimanya, sebagian lagi sibuk menentang bahkan tak segan-segan menggelar aksi demo, seperti yang dilaksanakan serentak di beberapa kota, 2 November lalu. Kebijakan ini terlalu memberatkan bagi mereka, termasuk saya. Bagaimana tidak? Pemerintah hanya dengan begitu saja menetapkan kebijakan tanpa melihat obyek yang menjadi sasaran.
Masyarakat menilai pemerintah terlalu cepat untuk menaikkan standart kelulusan. Karuan saja, orang yang baru bangun tidur langsung diguyur dengan air, kaget pastinya, sama halnya dengan yang dialami pelajar kini, mereka (kami) yang masih terengah-engah setelah berjuang melewati babak awal sekarang harus berjuang lagi melewati cobaan UNAS yang semakin mengerikan. Kalau saja yang diujikan tidak menjadi 6, mungkin saja kata mengerikan itu tak akan mendengung seperti ini.
Selain harus lebih obyektif, pemerintah hendaknya juga memperhatikan situasi kondisi, dan prospeksinya. Mungkin pemerintah dituntut misi peningkatan SDM dalam kurun waktu secepatnya, tapi kenapa selama ini hanya sekedar mencoba-coba kebijaksanaan dalam sistem pendidikan? Apa jadinya bila masyarakat terus menerus dijejeli keputusan yang tak pasti dan sia-sia seperti itu?
Pendidikan bukanlah ajang coba-coba! Kelulusan bukanlah mainan!